www.AlvinAdam.com
Kirim Berita Maluku: Klik Disini | Konfirmasi Berita Maluku: Klik Disini

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Kasus kelaparan masyarakat adat terpencil di Maluku, wacana ...

Posted by On 20.40

Kasus kelaparan masyarakat adat terpencil di Maluku, wacana ...

Kasus kelaparan masyarakat adat terpencil di Maluku, wacana relokasi ditentang

MalukuHak atas foto BPBD KABUPATEN MALUKU TENGAH
Image caption Pemda Maluku Tengah berencana merelokasi suku Mause Ane dari Pegunungan Morkelle agar tak lagi diterpa bencana kelaparan.

Wacana relokasi terhadap ratusan warga suku Mausu Ane di pedalaman Pulau Seram ke perkotaan dianggap tidak tepat.

Pemerintah justru didesak mengirim layanan dasar ke wilayah suku tersebut agar kasus kelaparan tak kembali terulang.

&q uot;Relokasi bukan solusi terakhir, ada solusi lain agar tempat tinggal masyarakat adat subur dan layak untuk kehidupan mereka," ujar Yahya Mahmud dari Perhimpunan Pembela Masyarakat Adat Nusantara.

  • 'Mereka bertahan hidup makan daun': Kasus kelaparan di Maluku Tengah
  • Mengapa usulan Presiden Jokowi merekolasi warga Asmat 'mustahil' dilakukan?
  • Gizi buruk dan campak, puluhan tewas di Papua: pemerintah lambat?

Yahya mengomentari wacana yang dilontarkan Bupati Maluku Tengah, Tuasikal Abua. Seperti dilaporkan Kompascom, Tuasikal menginstruksikan kepala desa atau raja maeno untuk mensosialikasikan rencana relokasi.

Tuasikal berkata, ide relokasi muncul sejak kebakaran melanda Pulau Seram tahun 2017.

Meski lahan pertanian suku tersebut hancur, ia menyebut suku Mausu Ane khawatir tanah ulayat mereka dicaplok untuk kepentingan bisnis.

"Kendalanya pola hidup mereka kan nomaden, tidak tahu bahasa Indonesia, jadi nanti kita tunggu hasil negosiasi raja maeno dengan mereka dulu,"ujarnya.

Hak atas foto BPBD KABUPATEN MALUKU TENGAH
Image caption Kendala lain yang dianggap membuat orang-orang dari suku Mause Ane ini agak kesulitan mendapatkan akses bantuan dari luar adalah kecenderungan sikap mereka yang mencurigai 'orang luar'.

Awal Juli lalu, tiga warga Mause Ane meninggal karena kelaparan. Ladang mereka dilaporkan gagal panen sehingga sekitar 170 orang di komunitas adat itu kekurangan bahan makanan.

Sejak awal pekan ini sejumlah instansi mulai mengirim bantuan kepada mereka. Dinas Sosial Maluku Tengah setidaknya memberikan satu ton beras, paket lauk-pauk, dan berbaga i peralatan masak serta tenda untuk suku tersebut.

Selain pemerintah daerah, Kementerian Sosial (Kemsos), Tagana, hingga Kodam Pattimura menerjunkan personel untuk mengatasi kelaparan dalam jangka pendek.

Wacana relokasi masyarakat adat terpencil juga pernah diutarakan Presiden Joko Widodo, Januari 2018, saat krisis kesehatan menerpa anak-anak Asmat di Papua. Namun wacana itu urung terlaksana.

Relokasi pernah gagal

Yahya Mahmud, advokat yang aktif bergiat dengan masyarakat adat di kawasan Maluku, menyebut pemerintah Maluku sebelumnya pernah merelokasi masyarakat adat Tobelo Dalam pada dekade 1980-an.

Pemerintah, kata dia, saat itu memindahkan komunitas Tobelo Dalam ke pemukiman permanen yang berada lebih dekat dengan kota.

Namun karena relokasi berjalan tanpa pendekatan personal dan kajian mendalam, Yahya menyebut suku Tobelo Dalam kembali ke tempat tinggal asli mereka di hutan.

"Pada musim kemarau awalnya tidak masalah, tapi pada mus im hujan mereka kabur saat mendengar air hujan jatuh ke atap seng rumah mereka."

"Relokasi harus dari kemauan mereka sendiri, bukan paksaan," kata Yahya.

Hak atas foto YAMIN MUHAMMAD/AFP
Image caption Presiden Jokowi pernah mendesak Pemda Asmat memindahkan sejumlah komunitas terpencil ke kota agar mereka mendapatkan layanan dasar yang memadai.

Direktur Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Kemsos, Harapan Lumban Gaol, tak menampik pentingnya relokasi yang berawal dari usul komunitas suku itu sendiri.

Menurut Harapan, pemerintah daerah perlu berdiskusi panjang dengan komunitas adat sebelum mengambil kebijakan. Ia mengatakan, relokasi harus dijalankan berdasarkan kesepakata n para pihak.

"Kalau masyarakat mengatakan tidak perlu, itu juga terserah mereka," tuturnya.

Bagaimanapun, kata Harapan, pemerintah pusat menargetkan istilah terpencil tidak lagi melekat pada komunitas adat di berbagai daerah. Artinya, kata dia, suku-suku itu memiliki akses terhadap layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan.

"Tujuannya perekonomian bisa masuk dan maju sehingga mereka bisa berasimilasi dengan masyarakat luar. Produk mereka terjual dan bisa sejahtera," ucapnya.

Suku Mausu Ane dikategorikan nomaden karena mereka tidak menetap di suatu wilayah tertentu, melainkan terus berpindah.

Untuk menjangkau wilayah mereka, perwakilan pemerintah mengklaim membutuhkan waktu berjam-jam, dilalui dengan mobil berpenggerak empat roda dan jalan kaki.

Akses yang sulit selama ini menjadi alasan pemerintah lokal tak menyentuh suku tersebut.

Terkait hal itu, Yahya Mahmud berkata, "pelayanan harus merata, walau jauh dari perkotaan. Pemerintah bukan mendekatkan mereka ke kota, tapi bagaimana membuka akses ke wilayah mereka di pedalaman."

Hak atas foto BPBD KABUPATEN MALUKU TENGAH
Image caption Kelaparan terjadi di suku Mausu Ane sejak beberapa bulan terakhir, akibat serangan hama.

Maluku merupakan satu dari dua pulau dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2018.

Hingga Maret 2018, jumlah penduduk miskin di Maluku berjumlah 320.080 jiwa. Warga miskin di daerah itu adalah mereka yang hidup dengan Rp456.457 per bulan.

Adapun menurut catatan Kemsos, hingga Oktober 2017, terdapat sekitar 231.268 kepala keluarga adat terpencil yang hidup terbelakan g di Indonesia. Mereka disebut kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Sumber: Berita Maluku

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »